Balon Doa

Pengantar:

Twitter memang memberikan tantangan tersendiri dalam menulis puisi. 
Tidak sekadar kata kunci, tetapi juga keterbatasan karakter dalam 1 tweet.
Berikut ini karya kecil yang diapresiasi akun Lentera Sajak pada 04 Maret 2019 dengan kata kunci: balon.
..........




BALON DOA


Kuterbangkan balon doa,
di basah sujud malamku.
Kuembuskan ayat cinta,
di penggal-penggal napasku.

Dalam harap yang terbata,
kuikat sepatah nama di ujungnya.


#puisikakilima


Penggunaan ku-, kau-, -ku, dan -mu

Pengantar:

Ini tulisan hasil copas,
karena tadi siang terlibat diskusi tentang cara penulisan "ku".
Agak panjang, tapi semoga membuka pemahaman kita tentang "ku" dan "kau"

...........


Kata "ku" dan "kau" merupakan bentuk ringkas dari kata ganti (pronomina) "aku" dan "engkau". Bentuk ringkas ini disebut "klitik" yang selalu ditulis serangkai dengan kata lain yang mengikuti atau mendahuluinya.

Klitik "ku" dapat diletakkan di depan (misalnya kubuka) atau di belakang suatu kata (misalnya bukuku), sedangkan klitik "kau" hanya dapat diletakkan di depan suatu kata (misalnya kaubuka).

Bentuk klitik orang kedua yang kita pakai di belakang suatu kata bukanlah "-kau", melainkan "-mu" (bentuk ringkas dari "kamu").

Klitik yang diletakkan di depan suatu kata disebut "proklitik". Proklitik "ku-" dan "kau-" hanya dapat dilekatkan dengan kata kerja (verba) pasif dan berfungsi sebagai penunjuk pelaku. Berikut arti kata yang dibentuk oleh kedua proklitik ini.

(1) kubaca = dibaca oleh aku

(2) kausambung = disambung oleh engkau

Proklitik "ku-" dan "kau-" tidak dapat diikuti oleh kata kerja aktif, misalnya kumembaca atau kaumenyambung. Untuk keperluan ini, gunakan bentuk panjang "aku" dan "engkau" (atau "kamu").

Klitik yang diletakkan di belakang suatu kata disebut "enklitik". Enklitik "-ku" dan "-mu" (bukan "-kau") berfungsi sebagai penunjuk pemilik atau tujuan.

(3) bukuku = buku milik aku

(4) mengirimimu = mengirim kepada kamu

Selain sebagai klitik, "kau" dapat dipakai sebagai kata yang berdiri sendiri sebagai sinonim "engkau", tetapi "ku" tidak dapat berdiri sendiri. Contoh #5 dan #6 berikut benar, sedangkan #7 dan #8 salah.

(5) Kau ikut, tidak? = Engkau ikut atau tidak?

(6) Kau harus ikut = Engkau harus ikut

(7) Ku ikut, dong (seharusnya "Aku ikut, dong")

(8) Ku ikuti kamu (seharusnya "aku ikuti kamu" atau "kuikuti kamu")

Perlu diingat, baik "aku", "engkau", maupun "kamu" adalah kata ganti yang dipakai dalam ragam tidak formal yang menunjukkan keakraban. Demikian pula klitik "ku-", "-ku", "kau-", dan "-mu". Jangan pakai kata-kata ini kepada orang yang lebih tua atau lebih dihormati, kecuali dalam situasi akrab yang diizinkan.

Simpulan:

1. "ku" selalu dilekatkan dengan kata yang mengikuti atau mendahuluinya;

2. "kau" dapat dilekatkan atau dipisahkan dengan kata yang mengikutinya;

3. "mu" selalu dilekatkan dengan kata yang mendahuluinya;

4. Proklitik "ku-" dan "kau-" hanya dapat dilekatkan dengan kata kerja pasif.


Sumber utama:
Ivan Lanin di beritagar.id 

..........

Quote:

"Pahami bahasa sendiri, jika anda ga ingin jadi orang asing di negeri sendiri."

Ini quote serius dari saya 😁😁😁

Rindu Diam

Ini adalah puisi pertama saya yg diapresiasi akun Instagram @wikipuisi yg saat itu punya 200 ribu followers dengan 4 ribu lebih postingan.



Setelah berkelana di Instagram sejak jelang akhir 2018, dan tidak digubris oleh admin² puisi, akhirnya karya kecil saya di-repost pada 09/02/2019 dengan grafis ulang oleh pemilik akun.


rindu kubisikkan diam-diam,
sehening angin pagi berembus di sela dedaunan.


#puisikakilima

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Pengantar:
Reposted dari status FB 11 November 2019 di sini ...

..........

Sumber: shutterstock.com



Saya yakin semua sudah pernah membaca atau mendengar deretan kata yang jadi judul postingan saya ini.

Kadang saya ubah sedikit dengan "martabat bangsa".

Iya ...
Di mata saya, 
siapa yang akan menghargai bahasa ibu, jika bukan bangsanya sendiri.
Siapa yang akan menghargai bahasa Indonesia, jika bukan kita sendiri.

Adanya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) atau PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) adalah standar baku yang dibuat oleh para ilmuwan bahasa. 
Saya pribadi sangat menghargainya. Why?
Karena saya pencinta ilmu. Apapun itu.
Dan para ilmuwan itulah para ahlinya.

Ilmu itu dinamis. Berkembang ...
Sesuai perkembangan peradaban manusia.
Sama halnya dengan ilmu bahasa.

Dan yang perlu disadari ...
Jika kita suka menulis dalam bentuk apapun,
misalnya karya sastra puisi atau prosa, 
sebenarnya posisi kita sangat strategis sebagai agen kampanye "kebakuan" berbahasa Indonesia.
Atau sebaliknya sebagai pendistribusi "ke-salahkaprah-an" 😁😁😁.

Sadari bahwa ...
Kita adalah salah satu bagian dari "pasukan literasi".

Sebagai penutup:
Jangan jadi orang asing di negara kita sendiri, karena menutup mata pada perkembangan bahasa Indonesia.
(Ga beda dengan orang yang gagal "move on" dari mantan 😝😝😝)
..........
Catatan:
Jangan koreksi tata bahasa postingan ini.
Karena saya lagi curhat, bukan berliterasi.
😂😂😂

Ujung Waktu

Pengantar:

Karya pertama yang saya ikutkan event di akun Twitter "Lentera Sajak" pada Februari 2019.
Hadiah utama adalah buku "Garis Waktu"-nya Fiersa Besari.
Meskipun tidak memenangkan gelar apapun, tetapi saya merasa puas dengan perjuangan 3 bait dalam 3 hari 😂




UJUNG WAKTU


Aku selembar daun yang menunggu jatuh.
kering dan menguning.
Akan tiba saatnya ranting melepasku.
terbang dan terbuang.
Pintaku, pada angin senja yang setia.
Peluk aku, bisikkan cinta dan rindu,
sebelum kisahku berakhir, di ujung garis waktu.




Yk - Feb.24.2019


#puisikakilima