Licentia Poetica
![]() | ||
| Sumber: Twitter Graf Literasi @graflit_id |
Ada teman yang mengatakan tentang "kelaziman" dalam puisi.
Misal kata "risiko" yang ditulis dengan "resiko"; sekadar menjadi sekedar, dan sebagainya.
Saya meyakini bahwa pedoman berbahasa dan kamus bahasa tidak mungkin lahir tanpa riset.
Saya manusia yang dekat dengan kehidupan ilmiah, sehingga menghargai hasil kerja akademis.
Terima kasih teman-teman, untuk diskusi singkat dalam bentuk celotehan di status medsos.
Satu Hati Berkuntum Puisi
karena ini puisi terpanjang--hingga 18 Januari 2021--yang pernah saya tulis dan utk pertama kali ikutan ajang di FB--grup IPI.
Sayang saya udah bukan anggota IPI.
Meski tidak meraih nominasi apapun,
saya tetap ingin sesekali menulis puisi kek begini.
Ikutan event lagi? Engga janji π
..........
SATU HATI BERKUNTUM PUISI
aksara-aksara terjepit
kata-kata menjeritkan bait
ratapan seloka membanjiri selokan
genangkan kepedihan di jalanan
abjad-abjad mendengkur
frasa-frasa mengalirkan liur
desah sajak membangkitkan gairah
hempaskan gelinjang di mimpi panjang
mengapit mengimpit akar langit
jatuh bergelimang menyetubuhi bumi
penyair berkeringat mendenguskan hasrat
meremas diksi pacu penetrasi imaji
senapas jiwa pujangga mengendus aroma
tabur basa-basi, dersik iri, pasung pesona
membenamkan asumsi, agitasi, arogansi
biarlah menyatu hati di belukar literasi
#puisikakilima
Ctt:
agitasi: hasutan kepada orang banyak
dersik: desir (bunyi angin dan sebagainya)
seloka: jenis puisi yang mengandung ajaran (sindiran dan sebagainya)
Penggunaan Apostrof dalam Bahasa Indonesia
Tulisan kali ini bersumber dari narabahasa.id dengan sedikit modifikasi dari saya
Saya pribadi jarang--atau tidak sama sekali--menjumpai tanda ini dalam karya ilmiah misalnya. Lebih banyak saya jumpai dalam penulisan puisi.
Apostrof (‘) merupakan tanda baca dalam bahasa Indonesia yang diartikan sebagai penyingkat. Kita sering membaca sebuah kata dengan apostrof seperti ‘kan, ‘ku, t’lah, dan sebagainya. Namun, ternyata pada awal kemunculannya, apostrof tidak hanya berperan sebagai penyingkat.
Oxford English Dictionary mencatat bahwa apostrof berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘peniadaan bunyi dalam ucapan’. Ada anggapan bahwa apostrof pertama kali digunakan oleh Pietro Bembo—seorang sarjana, penyair, dan teoretikus sastra asal Italia—dalam buku De Aetna (1496). Kemudian, dalam praktik bahasa Prancis, tanda apostrof dipopulerkan oleh Geoffroy Tory pada 1529. Barulah setelah itu, apostrof mulai merebak di Britania Raya pada awal abad ke-16 melalui buku The Cosmographical Glasse (1559) karya William Cunningham.
Beralih ke tanah air, orang Belanda pun menggunakan apostrof ketika menulis dalam bahasa Melayu. Penulisan apostrof pada saat itu berfungsi sebagai tanda trema, yakni titik dua horizontal (¨) di atas huruf vokal sebagai penanda suku kata yang terpisah. Misalnya, taΓ€t. Lebih lanjut, Ophuijsen menjelaskan bahwa apostrof dalam aksara Latin merupakan spiritus lenis atau embusan lembut yang menandakan ketiadaan bunyi glotal bersuara /h/ pada awal kata. Hal ini berbeda dengan bahasa Arab yang menggunakan bunyi hamzah pada awal dan akhir kata sebagai spiritus lenis.
Ophuijsen lantas berkeinginan untuk menyederhanakan bunyi hamzah pada aksara Arab-Melayu—h dan q—dengan menggunakan apostrof. Kemudian, berdasarkan Ejaan Soewandi (1947), bunyi hamzah atau yang serupa dengannya ditulis dengan huruf k pada akhir suku kata, seperti makna. Barulah dalam Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan edisi pertama (1972), tanda apostrof diatur sebagai penyingkat. Aturan ini diperkuat dengan terbitnya Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (2015).
Bahasa Indonesia hari ini hanya mengenal apostrof sebagai penyingkat kata dan tahun. Contohnya sebagai berikut.
Tahun ‘80-an.
Iya, ‘kan?
Pada contoh pertama, ‘kan adalah akan dan s’lalu berarti selalu. Contoh kedua memanfaatkan apostrof untuk menghilangkan penunjuk 19. Sementara itu, pada contoh ketiga, ‘kan mengartikan bukan.
Sumber: narabahasa.id
Proses Kreasi di Puisi Kaki Lima
Berhubung Instagram sudah link dengan Facebook, saya semakin efektif waktu.
Tidak hanya dalam bentuk postingan saja, sekaligus story IG dan FB dalam 1 klik.
![]() |
| Pic 1: Tweet di Puisi Kaki Lima |
Saya kirim cuitan dengan mention salah satu akun puisi. Bisa berkali-kali dalam sehari.
![]() |
| Pic 2: Tweet di akun Twitter lain |
Jika pemilik akun lagi baik hati, bakal di-tweet ulang lewat akun mereka yang punya banyak follower.
![]() |
| Pic 3: Foto yang dipilih |
![]() |
| Pic 4: Hasil Akhir |
Kek kasus ini ...
Saya terpana ngeliat Anya π
Menuliskannya
Membayangkannya
Ah, andai saja!
π
Puisi Dua Larik Ke-1
Seingat saya ...
Ini adalah puisi 2 larik yang pertama kali saya posting di medsos--instagram pribadi.
kemudian saya rewrite dan posting ulang di Instagram Puisi Kaki Lima.
Biasanya saya tidak pernah kasih judul untuk puisi pendek seperti ini.
..........
detik demi detik menjelma kamu.
π· : saatchiart
#puisikakilima
Aturan Penggunaan Spasi
Salah satu hal kecil yang sering mengganggu saya sewaktu memeriksa tulisan-tulisan pada situs iKnow adalah aturan penggunaan spasi sebelum dan setelah tanda baca. Pedoman EYD memang tidak secara jelas menyebutkan aturan ini, tetapi contoh-contoh di dalam pedoman ini memberikan gambaran tentang hal tersebut.
![]() |
| Sumber: ivanlanin |
Tanda baca yang paling sering kita pakai–tanda titik, koma, tanya, dan seru–tidak diberi spasi sebelum tanda baca tersebut, tetapi diberi spasi setelahnya. Tanda hubung, pisah, dan garis miring tidak diberi spasi baik sebelum maupun setelah tanda baca tersebut. Tanda baca pengapit (tanda petik dan tanda kurung) diberi spasi untuk memisahkannya dengan bagian lain dari kalimat, tetapi tidak diberi spasi untuk memisahkannya dengan bagian yang diapit.
Cara penulisan yang kurang sesuai dengan pedoman ini yang sering ditemukan antara lain:
Spasi sebelum dan setelah garis miring
Spasi antara tanda kurung dengan bagian yang diapit
Sumber: https://ivanlanin.wordpress.com/2012/09/05/spasi/
..........
Jangan ada spasi di antara kita,
karena itu tidak sekadar ruang kosong
tetapi peluang orang ke-3 menyusup di sela-selanya.
ππ€ͺπ
..........
#belajarbahasaindonesia











